Kamis, 13 Maret 2014

Tugas portofolio 1


I.                   Pengantar

1.    Pengertian Psikoterapi
      Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang
artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Psikoterapi adalah upaya intervensi oleh psikoterapis terlatih agar kliennya bisa mengatasi persoalannya. metode psikoterapi adalah wawancara tatap muka perorangan, tetapi dalam praktik banyak variasi teknik psikoterapi, tergantung pada teori yang mendasarinya dan jenis masalah yang sedang dihadapi klien.


2.    Tujuan Psikoterapi
                         Tujuan pikoterapi adalah untuk mengembalikan keadaan kejiwaan klien yang terganggu agar bisa berfungsi kembali dengan optimal sehingga klien tersebut bisa merasa dirinya lebih sehat mental.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Alfred Adler adalah meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial pasien. Adler menyadari bahwa tugas ini tidak mudah karena pasien atau klien berjuang untuk mempertahankan keadaannya sekarang yang dipandangkan menyenangkan.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey  dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas Menurut Ivey, et al adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.

3.    Unsur – unsur Psikoterapi
                       Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup  unsur-unsur pada semua jenis psikoterapi,yaitu :
            a. Peran sosial (martabat)
b. Hubungan (persekutuan tarapeutik)
c. Hak
d. Retrospeksi
e. Reduksi
f. Rehabilitasi, memperbaiki ganggguan perilaku berat
g. Resosialisasi
h. Rekapitulasi

PERSAMAAN KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
1.       Tujuan-tujuan konseling dan psikoterapi adalah sama yaitu eksplorsasi diri,  
         pemahaman diri dan perubahan tindakan atau perilaku.
2.        Konseling dan psikoterapi bertujuan pula mencoba menghilangkan tingkah laku
         merusak diri (self defeating) pada klien.
3.       Baik konseling maupun psikoterapi memberi penekanan pentingnya perkembangan
        pembuatan keputusan dan keterampilan pembutan rencana oleh klien.
4.       Pentingnya saling berhubungan antara klien dankonseling ataupun psikoterapis
        disepakati sebagai suatu bagian integral dalam proses konseling ataupun psikoterapis.

4.   PERBEDAAN KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
                    1.    Konseling pada umumnya menangani orang normal. Sedangkan psikoterapi  
                         terutama menangani orang yang mengalami gangguan psikologis. 
                    2.    Konseling lebih edukatif, sportif, berorientasi, sadar, dan berjangka pendek.
                          Sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak  
                          sadar, dan berjangka panjang.
                    3.    Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan
                          konkret. Sedangkan psikoterpai sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki  
                          tujuan yang berubah-ubah serta erkembang terus.


5.         Pendekatan Terhadap Mental Lines :
·         Biological, Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis   dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin dalam tubuh. Lalu dikembangkan terapi injeksi insulin . juga mulai dikembangkan upaya bedah otak di London.
·                      Psychological, Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kededihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu. Ini dimulai dari teori psikoanlisis Freud tahun (1856-1939)
·                      Sosiological, Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
·                      Philosophic, Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yaitu menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

6.         Bentuk Utama Terapi
Bentuk utama Terapi menurut Wolberg  yaitu:
a)    Supportive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk memperkuat benteng pertahanan diri, memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi kepribadian serta mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang.
b)   Reeducative Therapy
Terapi yang bertujuan untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.
c)    Reconstructive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik-konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensi penyesuaian yang baru.

II. TERAPI PSIKOANALISIS (Sigmund Freud)


1. Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian

a.  Kesadaran

  • Mimpi-mimpi, merupakan representative dari kebutuhan, hasrat-hasrat, dan konflik.
  • Simbol-simbol dalam mimpi.
  • salah ucap / lupa → terhadap nama yang dikenal
  • sugesti pascahipnotik
  • bahan – bahan  yang berasal dari teknik – teknik  asosiasi bebas
  • Bahan-bahan yang berasal dari teknik proyektif.


    b.  Struktur kepribadian

    - id, merupakan sistem kepribadian manusia yang asli, dibawa sejak lahir, berisi semua aspek psikologik seperti insting, impuls, dan drive (dorongan). Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll).

    - Ego, ego berkembang dari id agar seseorang mampu menangani realita, sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita. Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir rasional.

    - Superego, merupakan kekuatan moral dan etika dari kepribadian, yang memakai konsep idealistik sebagai lawan dari konsep kepuasan id dan realisitk ego. komponen kepribadian terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah.  
  • c. Mekanisme pertahanan ego
Karakterisitk pertahanan ego yakni :

 - Tidak disadari

- Menolak atau mendistorsi kenyataan

- Berusaha memindahkan kepribadian diri sendiri ke orang lain (proyektif).
Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan atau menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima atau tidak terlalu mengancam.


2.  Unsur - unsur terapi

     a.  Muncul gangguan
         Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut, kemudian terapis, memperkuat kondisi psikis dari diri klien, sehingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa, diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi dengan cepat.

    b.  Tujuan terapi
         erfokus kepada upaya penguatan diri klien, agar dikemudia hari apabila klien mengalami problem yang sama, maka klin akan lebih siap.

    c.   Peran terapis
         Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan, terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien.


3.  Tekni-tekni terapi

     a. Free association
         Salah satu alat untuk open the door / membuka kotak pandora : keinginan, fantasi, pikiran, perasaan, konflik, motivasi yang tidak disadari
prosedur :

- pasien rileks duduk / berbaring di sofa

- mengatakan apapun yang ada di pikiran (tanpa sensor)

(di interpretasi sebagai ekspresi simbolik dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang direpres)
tugas terapis :

mendengarkan, mencatat, menganalisis /menginterpretasi bahan yang direpres, memberitahu / membimbing pasien memperoleh insight (dinamika yang mendasari perilaku yang tidak disadari).


      b.  Analisis  transference
          Pasien dipersilahkan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang dimiliki terhadap significant other (seringkali orang tua), kepada terapis
terjadi ketika muncul konflik/ kebutuhan /dorongan masa lalu (cinta, benci, seksualitas, penolakan) & dibawa ke masa sekarang (terhadap terapis)
tugas terapis :

- menginterpretasi/menganalisis,

- membuat pasien memperoleh insight (dapat membedakan fantasi – realitas, masa lalu – sekarang, menyadari dorongan-dorongan yang tidak disadarinya)

- membantu pasien mengatasi konflik2 lama yang menghambat dirinya (mampu : mengatasi mispersepsi, mis-interpretasi, mengevaluasi kecemasan / dorongan yang tidak realistik, membuat keputusan yang realistik & matang).


        c.   Analisis  resistance
             Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yg ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.
                         d.   Analisis Mimpi
            Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak
             disadari dan  memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tak
             terselesaikan.


Sumber :
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Semiun. Yustinus. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta. Kanisius
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Robert, S.H. (1997). Buku Psikoterapi: Jakarta : Tiga Berlian

0 komentar:

Posting Komentar